KAMPAR (RIAU), KOMPASPOS.COM - Datuk Rajo Deko, Rusdi Rahman lakukan penobatan perangkat adat, di rumah Soko Datuk Rajo Deko, di Jln. K.H.M...
KAMPAR (RIAU), KOMPASPOS.COM - Datuk Rajo Deko, Rusdi Rahman lakukan penobatan perangkat adat, di rumah Soko Datuk Rajo Deko, di Jln. K.H.M. Nurmahyudin, desa Muara Uwai, kecamatan Bangkinang, Jumat, (18/8/23).
Adapun perangkat adat yang dinobatkan, yakni, Maulidin sebagai Paduko Suaso dan Sukri sebagai Panglimo Jelo.
"Kerja mereka yang dinobatkan itu, untuk membantu bagaimana persukuan ini baik, dan anak kemenakan tertata dengan baik juga," ujar Datuk Rajo Deko.
Ketika disinggung terkait polemik penobatan Zakaria sebagai Datuk Rajo Deko yang viral dimedia sosial baru-baru ini, Rusdi Rahman selaku Datuk Rajo Deko yang diakui keabsahannya oleh dominan anak kemanakan persukuan Melayu menjelaskan bahwa proses dan tata cara penobatan Datuk Rajo Deko yang sah menurut aturan adat itu ada dua rumah namanya, yakni rumah depan dan rumah belakang, setelah rumah depan itu meninggal pindah ke rumah belakang dan posisi rumah belakang itu adalah dirinya sendiri, Rusdi Rahman, Datuk Rajo Deko.
"Waktu pergantian ke saya sebagai Datuk Rajo Deko dulu, ada yang namanya serah terima. Dan itu tertulis dari rumah depan ke rumah belakang, itu ditulis serah terima Detau lambang kebesaran Datuk Rajo Deko, dan itu sarat sah pertama yang harus ditempuh untuk penobatan Datuk Rajo Deko," jelas Rusdi Rahman.
Sarat sah kedua, kata Rusdi Rahman, dilakukan musyawarah bersama untuk menentukan hari penobatan.
Ketiga, sarat penobatan itu dilakukan di tengah lapangan, dengan catatan harus menegakkan ulau-ulau (payung panji, red).
Keempat, ditengah-tengah masyarakat harus membunyikan oguong paling tidak 3 hari, dan minimalnya 2 hari. "Kalau tidak dilakukan sarat ini, itu kesannya olek pribadi," ujar Rusdi Rahman.
Kelima, rangkaian penobatan harus dilakukan dihadapan seluruh undangan, seperti, Camat, Kepala Desa/lurah, dan seluruh anak kemenakan persukuan Melayu.
"Datuk Rajo Deko ibu dari empat suduik persukuan Melayu atau istilahnya Raja dari keempat suduik persukuan melayu, dan Datuk Rajo Deko itu tidak dinobatkan oleh siapapun, tapi menobatkan sendiri dengan memasang Detau itu sendiri, jadi kalau kita pelintir itu bukan adat lagi, sementara kita kan harus tegak di adat," tegas Rusdi Rahman.
Selanjutnya, sambung Rusdi Rahman, setelah rangkaian penobatan itu, dilaksanakan makan bajambau, dan seluruh anak kemenakan yang empat suduik itu dengan kesadarannya sendiri membawa Jambau ke tengah lapangan.
"Adat ini tidak bisa dibuat-buat, anak kemenakan itu seluruhnya tahu rangkaian penobatan Datuk Rajo Deko, kalau ada yang melanggar aturan itu bukan mereka tidak tahu, mungkin mereka hanya pura-pura tidak tahu," jelas Rusdi Rahman.
Rusdi Rahman selaku Datuk Rajo Deko juga menegaskan bahwa penobatan yang mengaku Datuk Rajo Deko yang sempat menimbulkan polemik beberapa hari lalu itu tidak sah, karena tidak sesuai dengan aturan-aturan dan norma adat yang berlaku.
"Umpuik layu, antiong patah, buwuong bakicau, mako penobatan tidak SAH," pungkas Rusdi Rahman.
Rusdi Rahman juga berpesan kepada anak kemenakan untuk balik ke adat lagi, dan bersama-sama kita bina suku Melayu ini, dan tidak ada terkotak-kotak lagi.
Penulis : Canggih
COMMENTS